Makalah Keteladanan Sifat Ibnu Rusdy
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Pendahuluan
Di
Andalusia, tepatnya di kota Cordova lahir seorang filosof Muslim terkenal
bernama Ibnu Rusyd. Ketika itu Andalusia (Spanyol) merupakan salah satu pusat
peradaban Islam yang maju dan cemerlang serta banyak menghasilkan ilmuan-ilmuan
muslim besar seperti Ibnu Bajjah dan Ibnu Thufail. Di sisi lain, Eropa (baca:
masyarakat kristen Eropa) masih berada dalam zaman kegelapan, kebodohan dan
terkungkung dalam hegemoni kekuasaan gereja (The dark middle ages), sehingga
dapat dilihat dalam konteks sejarah bahwa dengan munculnya peradaban Islam di
Andalusia, telah menjadi jembatan bagi Eropa untuk mengetahui dan mempelajari
Ilmu pengetahuan khususnya filsafat. Dengan demikian dunia Islam telah
memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan Eropa.
Sebagai
seorang filosof, Ibnu Rusyd banyak memberikan kontribusinya dalam khasanah
dunia filsafat, baik filsafat yang berasal dari Yunani maupun yang berasal dari
filosof-filosof muslim sebelumnya. Ibnu Rusyd dalam filsafatnya sangat
mengagumi filsafat Aristoteles dan banyak memberikan ulasan-ulasan atau
komentar terhadap filsafat Aristoteles sehingga ia terkenal sebagai komentator
Aristoteles.
Dalam
makalah ini sekilas akan diuraikan beberapa pemikiran filsafat Ibnu Rusyd, biografi
dan karyanya, tanggapan terhadap kritik al-Ghazali, di samping pengaruh
pemikirannya dalam ilmu pengetahuan yang kemudian memunculkan gerakan
Averroisme di Barat.
B. Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk mengetahui tentang keteladanan
dan keutamaan Sifat Ibnu Rusyd dan Iqbal
BAB II
PEMBAHASAN
A. Ibnu Rusyd
1.
Biografi dan Pendidikannya
Nama lengkapnya, Abu Walid Muhammad
Ibnu Muhammad Ibnu Rusyd dilahirkan di Cordova sebuah kota di Andalus. Ia
terlahir pada tahun 510 H/126 M, Ia lebih populer dengan sebutan Ibnu
Rusyd. Orang barat menyebutnya dengan sebuah nama Averrois. Sebutan ini
sebenarnya di ambil dari nama kakeknya. Keturunannya berasal dari keluarga yang
alim dan terhormat, bahkan terkenal dengan keluarga yang memiliki banyak
keilmuan. Kakek dan ayahnya mantan hakim di Andalus dan ia sendiri pada tahun
565 H/1169 M diangkat pula menjadi hakim di Seville dan Cordova. Karena
prestasinya yang luar biasa dalam ilmu hukum, pada tahun 1173 M ia dipromosikan
menjadi ketua Mahkamah Agung, Qadhi al-Qudhat di Cordova.[1]
Dalam buku karangan Nurcholis
Madjid, dijelaskan tentang penamaan Ibnu Rusyd, bahwa penyebutan Averrios untuk
Ibnu Rusyd adalah akibat dari terjadinya metamorfose Yahudi-Spanyol-Latin. Oleh
orang Yahudi, kata Arab Ibnu diucapkan seperti kata Ibrani 9 bahasa Yahudi
dengan Aben. Sedangkan dalam standar Latin Rusyd menjadi Rochd. Dengan demikian
nama Ibnu Rusyd menjadi Aben Rochd. Akan tetapi, dalam bahasa Spanyol huruf
konsonan ”b” diubah menjadi ”v”, maka Aben menjadi Aven Rochd. Melalui
asimilasi huruf-huruf konsonan dalam bahasa Arab disebut Idgham kemudian
berubah menjadi Averrochd, karena dalam bahasa Latin tidak ada huruf ”sy”,
huruf ”sy” dan d dianggap dengan ”s” sehingga menjadi Averriosd. Kemudian,
rentetan ”s” dan ”d” dianggap sulit dalam bahasa Latin, maka huruf ”d”
dihilangkan sehingga menjadi Averros. Agar tidak terjadi kekacauan antara huruf
”s” dengan ”s” posesif maka antara ”o” dan ”s” diberi sisipan ”e” sehingga
Averroes, dan ”e” sering mendapat tekanan sehingga menjadi Averrois.[2]
Ibnu rusyd tumbuh dan hidup dalam
keluarga yang besar sekali ghairahnya pada ilmu pengetahuan. Hal itu terbukti,
Ibnu Rusyd bersama-sama merivisi buku Imam Malik, Al-Muwaththa, yang
dipelajarinya bersama ayahnya Abu Al-Qasim dan ia menghapalnya. Ia juga juga
mempelajari matematika, fisika, astronomi, logika, filsafat, dan ilmu
pengobatan. Guru-gurunya dalam ilmu-ilmu tersebut tidak terkenal, tetapi secara
keseluruhan Cordova terkenal sebagai pusat studi filsafat. Adapun seville
terkenal karena aktivitas-aktivitas artistiknya. Cordova pada saat itu menjadi
saingan bagi Damaskus, Baghdad, Kairo, dan kota-kota besar lainnya di
negeri-negeri Islam Timur.[3]
2. Karya-Karyanya
Sebagai seorang filsafat Islam di dunia
Islam bagian Barat, Ibnu Rusyd juga telah membuat sebuah karya dalam
tulisannya. Karya-karya Ibnu Rusyd benar-benar memuat sudut pandang ke arah
filsafat. Di antara karya-karyanya adalah sebagai berikut:
a. Tahafut
at-Tahafut. Kitab ini berupaya menjabarkan dengan menyanggah butir demi butir
keberatan terhadap al-Ghazali. Tahafut at-Tahafut lebih luwes daripada fashl
dalam menegaskan keunggulan agama yang didasarkan pada wahyu atas akal yang
dikaitkan dengan agama yang murni rasional. Akan tetapi, Tahafut at-Tahafut
juga setia kepada Fashl, melalui pandangan terhadap diri Nabi yang mempunyai
akl aktif untuk melihat gambaran-gambaran secara rasional. Seperti halnya juga
para filsuf, dan yang mengubah gambaran-gambaran tersebut dengan mengubah
imajinasi menjadi simbol-simbol yang sesuai kebutuhan orang awam. Dengan
demikian, rasioanlisme religius Ibnu Rusyd bukan sekedar reduksionisme, seperti
halnya paham Al-Muwahhidun, ini merupakan keyakinan pada kemungkinan untuk
membangun kemabli rantai penalaran secara aposteriori.[5]
b. Fash
al-Maqal fi ma bain al-Hikmat wa al-Syari’ah min al-Ittishal (Kitab ini
berisikan tentang hubungan antara filsafat dengan agama)
c. Al-Kasyf’an
Manahij al-Adillat fi ’Aqa’id al-Millat, (berisikan kritik terhadap metode para
ahli ilmu kalam dan sufi)
d. Bidayat
al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid, (berisikan uraian-uraian di bidang fiqih)
3. Pemikirannya
Sebagai
komentator Aristoteles tidak mengherankan jika pemikiran Ibnu Rusyd sangat
dipengaruhi oleh filosof Yunani kuno. Ibnu Rusyd menghabiskan waktunya untuk
membuat syarah atau komentar atas karya-karya Aristoteles, dan berusaha
mengembalikan pemikiran Aristoteles dalam bentuk aslinya. Di Eropa latin, Ibnu
Rusyd terkenal dengan nama Explainer (asy-Syarih) atau juru tafsir Aristoteles.
Sebagai juru tafsir martabatnya tak lebih rendah dari Alexandre d’Aphrodise
(filosof yang menafsirkan filsafat Aristoteles abad ke-2 Masehi) dan
Thamestius.[6]
Dalam
beberapa hal Ibnu Rusyd tidak sependapat dengan tokoh-tokoh filosof muslim
sebelumnya, seperti al-Farabi dan Ibnu Sina dalam memahami filsafat
Aristoteles, walaupun dalam beberapa persoalan filsafat ia tidak bisa lepas
dari pendapat dari kedua filosof muslim tersebut. Menurutnya pemikiran
Aristoteles telah bercampur baur dengan unsur-unsur Platonisme yang dibawa
komentator-komentator Alexandria. Oleh karena itu, Ibnu Rusyd dianggap berjasa
besar dalam memurnikan kembali filsafat Aristoteles. Atas saran gurunya Ibnu
Thufail yang memintanya untuk menerjemahkan fikiran-fikiran Aristoteles pada masa
dinasti Muwahhidun tahun 557-559 H.[7]
Namun
demikian, walaupun Ibnu Rusyd sangat mengagumi Aristoteles bukan berarti dalam
berfilsafat ia selalu mengekor dan menjiplak filsafat Aristoteles. Ibnu Rusyd
juga memiliki pandangan tersendiri dalam tema-tema filsafat yang menjadikannya
sebagai filosof Muslim besar dan terkenal pada masa klasik hingga sekarang.
Pemikiran
Epistemologi Ibn Rusyd
Dalam
kitabnya Fash al Maqal ini, ibn Rusyd berpandangan bahwa mempelajari filsafat
bisa dihukumi wajib. Dengan dasar argumentasi bahwa filsafat tak ubahnya
mempelajari hal-hal yang wujud yang lantas orang berusaha menarik pelajaran /
hikmah / ’ibrah darinya, sebagai sarana pembuktian akan adanya Tuhan Sang Maha
Pencipta. Semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang maujud atau tentang
ciptaan Tuhan , maka semakin sempurnalah ia bisa mendekati pengetahuan tentang
adanya Tuhan. Bahkan dalam banyak ayat-ayat-Nya Tuhan mendorong manusia untuk
senantiasa menggunakan daya nalarnya dalam merenungi ciptaan-ciptaan-Nya.
Jika
kemudian seseorang dalam pemikirannya semakin menjauh dengan dasar-dasar
Syar’iy maka ada beberapa kemungkinan, pertama, ia tidak memiliki kemampuan /
kapasitas yang memadai berkecimpung dalam dunia filsafat, kedua, ketidakmampuan
dirinya mengendalikan diri untuk untuk tidak terseret pada hal-hal yang
dilarang oleh agama dan yang ketiga adalah ketiadaan pendamping /guru yang
handal yang bisa membimbingnya memahami dengan benar tentang suatu obyek
pemikiran tertentu.
Oleh
karena itu tidak mungkin filsuf akan berubah menjadi mujtahid, tidak
mempercayai eksistensi Tuhan/ meragukan keberadaaan Tuhan, Kalaupun ia berada
dalam kondisi semacam itu bisa dipastikan ia mengalami salah satu dari 3 faktor
di atas, atau terdapat dalam dirinya gabungan 2 atau 3 faktor-faktor tersebut.
Sebab kemmapuan manusia dalam menenrima kebenaran dan bertindak dalam mencari
pengetahuan berbeda-beda. Ibn Rusyd berpendapat ada 3 macam cara manusia dalam
memperoleh pengetahuan yakni:
a. Lewat
metode al- Khatabiyyah (Retorika)
b. lewat
metode al-Jadaliyyah (dialektika)
c. Lewat
metode al-Burhaniyyah (demonstratif)[8]
Pertama, Metode Khatabi digunakan
oleh mereka yang sama sekali tidak termasuk ahli takwil , yaitu orang-orang
yang berfikir retorik, yang merupakan mayoritas manusia. Sebab tidak ada
seorangpun yang berakal sehat kecuali dari kelompok manusia dengan kriteria
pembuktian semacam ini (khatabi)
Kedua, Metode Jadali dipergunakan
oleh mereka yang termasuk ahli dalam melakukan ta’wil dialektika. Mereka itu
secara alamiyah atau tradisi mampu berfikir secara dialektik.
Ketiga, Metode Burhani dipergunakan
oleh mereka yang termasuk ahli dalam melakukan ta’wil yaqini. Mereka itu secara
alamiah mampu karena latihan, yakni latihan filsafat, sehingga mampu berfikir
secara demonstratif. Ta’wil yang dilakukan dengan metode Burhani sangat tidak
layak untuk diajarkan atau disebarkan kepada mereka yang berfikir dialektik
terlebih orang-orang yang berfikir retorik. Sebab jika metode ta’wil burhani
diberikan kepada mereka justru bisa menjerumuskan kepada kekafiran .
Penyebabnya dalah karena tujuan ta’wil itu tak lain adalah membatalkan
pemahaman lahiriyah dan menetapkan pemahaman secara interpretatif. Pernyataan
ini merujuk pada Qur’an surat Al-Isra’ : 85 :
Artinya:
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk
urusan Tuhan-ku. (Q.S. Al-Israa’: 85)
Allah
SWT tidak menjelaskan pengertian ruh karena tingkat kecerdasan mereka itu tidak
/ belum memadai sehingga dikhawatirkan justru hal itu akan menyusahkan mereka.
B.
Iqbal
Iqbal dilahirkan
di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab Barat dan
Kashmir) pada tanggal 9 November 1877/2 Dzulqa'dah 1294 dan wafat pada tanggal
21 April 1938. Ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi berkat bantuan beasiswa
yang diperlolehnya dari sekolah menengah dan perguruan tinggi, ia mendapatkan
pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan dasarnya selesai di Sialkot ia masuk
Government College (sekolah tinggi pemerintah) Lahore. Iqbal menjadi murid
kesayangan dari Sir Thomas Arnold. Iqbal lulus pada tahun 1897 dan
memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena baiknya bahasa inggris dan
arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar M.A dalam bidang filsafat. Ia
lahir dari kalangan keluarga yang taat beribadah sehingga sejak masa kecilnya
telah mendapatkan bimbingan langsung dari sang ayah Syekh Mohammad Noor dan
Muhammad Rafiq kakeknya. Pendidikan dasar sampai tingkat menengah ia selesaikan
di Sialkot untuk kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi di Lahore, di
Cambridge-Inggris dan terakhir di Munich-Jerman dengan mengajukan tesis dengan
judul The Development Of Metaphysics in Persia. Sekembalinya dari Eropa tahun
1909 ia diangkat menjadi Guru Besar di Lahore dan sempat menjadi pengacara.
Adapun karya-karya Iqbal diantaranya adalah: Bang-i-dara (Genta Lonceng),
Payam-i-Mashriq (Pesan Dari Timur), Asrar-i-Khudi (Rahasia-rahasia Diri),
Rumuz-i-Bekhudi (Rahasia-rahasia Peniadaan Diri), Jawaid Nama (Kitab
Keabadian), Zarb-i-Kalim (Pukulan Tongkat Nabi Musa), Pas Cheh Bayad Kard Aye
Aqwam-i-Sharq (Apakah Yang Akan Kau Lakukan Wahai Rakyat Timur?), Musafir Nama,
Bal-i-Jibril (Sayap Jibril), Armughan-i-Hejaz (Hadiah Dari Hijaz), Devlopment
of Metaphyiscs in Persia, Lectures on the Reconstruction of Religius Thought in
Islam Ilm al Iqtishad, , A Contibution to the History of Muslim Philosopy,
Zabur-i-'Ajam (Taman Rahasia Baru), Khusal Khan Khattak, dan Rumuz-i-Bekhudi
(Rahasia Peniadaan Diri). Sebagai seorang pemikir, tentu tidak dapat sepenuhnya
dikatakan bahwa gagasan-gagasannya tersebut tanpa dipengaruhi oleh
pemikir-pemikir sebelumnya. Iqbal hidup pada masa kekuasaan kolonial Inggris.
Pada masa ini pemikiran kaum muslimin di anak benua India sangat dipengaruhi
oleh seorang tokoh religius yaitu Syah Waliyullah Ad-Dahlawi dan Sayyid Ahmad
Khan. Syah Ad-Dahlawi adalah Ahmad bin Abdurrahim bin Wajiduddin bin Mu'azzam
bin Ahmad bin Muhammad bin Qawanuddin al-Dahlan. Ia lahir di Kota dekat Delhi
pada tanggal 21 Pebruari 1703 M/ 4 Syawal 1114 H dan wafat pada tanggal 29
Muharram 1176 H/ 10 gustus 1762 dalam usia 61 tahun. Karya tulisnya yang
monumental adalah Hujjatullah al-Balighah. Dan Sayyid Ahmad Khan adalah seorang
penulis, pemikir dan aktivis politik modernis Islam India. Lahir di Delhi tahun
1817 M. Dimasa pemberontakan tahun 1857 ia berusaha mencegah kekerasan yang
karenanya banyak orang-orang Inggris tertolong dari pembunuhan. Karena jasanya
itu Inggris memberikan gelar kepadanya dengan sebutan Sir. Selanjutnya ia
menggunakan kesempatan itu untuk menjalin hubungan baik dengan Inggris tapi
semata-mata untuk kepentingan umat Islam India, karena baginya dengan jalan
itulah umat Islam dapat tertolong. Dan akhirnya setelah kejadian tahun 1857 itu
ia menjalankan tiga proyek besar yaitu: memprakarsai dialog untuk menciptakan
saling pegertian antara kaum muslim dan Kristen, mendirikan organisasi ilmiah
yang membantu kaum muslim untuk memahami kunci keberhasilan Barat dan
menganalisis secara objektif penyebab pemberontakan 1857. Keduanya adalah
sebagai para pemikir muslim pertama yang menyadari bahwa kaum muslimin tengah
menghadapi zaman modern yang didalamnya pemahaman Islam mendapat tantangan
serius dari Inggris. Terlebih ketika Dinasti Mughal terakhir di India ini
mengalami kekalahan saat melawan Inggris pada tahun 1857, juga sangat mempengaruhi
41 tahun kekuasaan Imperium Inggris dan bahkan pada tahun 1858 British East
India Company dihapus dan Raja Inggris bertanggungjawab atas pemerintah
imperium India.
Pemikiran-Pemikiran
Mohammad Iqbal Menurut Dr. Syed Zafrullah Hasan dalam pengantar buku Metafisika
Iqbal yang ditulis oleh Dr. Ishrat Hasan Enver, Iqbal memiliki beberapa
pemikiran yang fundamental yaitu intuisi diri, dunia dan Tuhan. Baginya Iqbal
sangat berpengaruh di India bahkan pemikiran Muslim India dewasa ini tidak akan
dapat dicapai tanpa mengkaji ide-idenya secara mendalam. Namun dalam tataran
praktek, Iqbal secara konkrit, yang diketahui dan difahami oleh masyarakat
dunia dengan bukti berupa literature-literatur yang beredar luas, justru dia
adalah sebagai negarawan, filosof dan sastrawan. Hal ini tidak sepenuhnya
keliru karena memang gerakan-gerakan dan karya-karyanya mencerminkan hal itu.
Dan jika dikaji, pemikiran-pemikirannya yang fundamental (intuisi, diri, dunia
dan Tuhan) itulah yang menggerakkan dirinya untuk berperan di India pada
khususnya dan dibelahan dunia timur ataupun barat pada umumnya baik sebagai
negarawan maupun sebagai agamawan. Karena itulah ia disebut sebagai Tokoh
Multidimensional. Dengan latar belakang itu maka dalam makalah ini penulis akan
memaparkan gagasan-gagasan Iqbal dalam dua hal yaitu: pemikirannya tentang
politik dan tentang Islam. a.
Pemikiran Politik Sepulangnya dari Eropa, Iqbal kemudian terjun kedunia politik
dan bahkan menjadi tulang punggung Partai Liga Muslim India. Ia terpilih
menjadi anggota legistalif Punjab dan pada tahun 1930 terpilih sebagai Presiden
Liga Muslim. Karir Iqbal semakin bersinar dan namanya pun semakin harum ketika
dirinya diberi gelar ‘Sir’ oleh pemerintah kerajaan Inggris di London atas
usulan seorang wartawan Inggris yang aktif mengamati sepak terjang Iqbal di
bidang intelektual dan politiknya. Gelar ini menunjukan pengakuan dari kerajaan
inggris atas kemampuan intelektualitas dan memperkuat bargening position
politik perjuangan umat Islam India pada saat itu. Ia juga dinobatkan sebagai
Bapak Pakistan yang pada setiap tahunnya dirayakan oleh rakyat Pakistan dengan
sebutan Iqbal Day. Pemikiran dan aktivitas Iqbal untuk mewujudkan Negara Islam
ia tunjukkan sejak terpilih menjadi Presidaen Liga Muslimin tahun 1930. Ia memandang
bahwa tidaklah mungkin umat Islam dapat bersatu dengan penuh persaudaraan
dengan warga India yang memiliki keyakinan berbeda. Oleh karenanya ia berfikir
bahwa kaum muslimin harus membentuk Negara sendiri. Ide ini ia lontarkan
keberbagai pihak melalui Liga Muslim dan mendapatkan dukungan kuat dari seorang
politikus muslim yang sangat berpengaruh yaitu Muhammad Ali Jinnah (yang
mengakui bahwa gagasan Negara Pakistan adalah dari Iqbal), bahkan didukung pula
oleh mayoritas Hindu yang saat itu sedang dalam posisi terdesak saat menghadapi
front melawan Inggris. Bagi Iqbal dunia Islam seluruhnya merupakan satu
keluarga yang terdiri atas republik-republik, dan Pakistan yang akan dibentuk
menurutnya adalah salah satu republik itu. Sebagai seorang negarawan yang
matang tentu pandangan-pandangannya terhadap ancaman luar juga sangat tajam.
Bagi Iqbal, budaya Barat adalah budaya imperialisme, materialisme, anti
spiritual dan jauh dari norma insani. Karenanya ia sangat menentang pengaruh
buruk budaya Barat. Dia yakin bahwa faktor terpenting bagi reformasi dalam diri
manusia adalah jati dirinya. Dengan pemahaman seperti itu yang ia landasi
diatas ajaran Islam maka ia berjuang menumbuhkan rasa percaya diri terhadap
umat Islam dan identitas keislamannya. Umat Islam tidak boleh merasa rendah
diri menghadapi budaya Barat. Dengan cara itu kaum muslimin dapat melepaskan
diri dari belenggu imperialis. Muhammad Asad mengingatkan bahwa imitasi yang
dilakukan umat Islam kepada Barat baik secara personal maupun social dikarenakan
hilangnya kepercayaan diri, maka pasti akan menghambat dan menghancurkan
peradaban Islam. Paham Iqbal yang mampu mambangunkan kaum muslimin dari
tidurnya adalah “dinamisme Islam” yaitu dorongannya terhadap umat Islam supaya
bergerak dan jangan tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak, sedang hukum
hidup adalah menciptakan, maka Iqbal menyeeru kepada umat Islam agar bangun dan
menciptakan dunia baru. Begitu tinggi ia menghargai gerak, sehingga ia menyebut
bahwa seolah-lah orang kafir yang aktif kreatif "lebih baik" dari
pada muslim yang "suka tidur". Iqbal juga memiliki pandangan politik
yang khas yaitu; gigih menentang nasionalisme yang mengedepankan sentiment
etnis dan kesukuan (ras). Bagi dia, kepribadian manusia akan tumbuh dewasa dan
matang di lingkungan yang bebas dan jauh dari sentiment nasionalisme. M. Natsir
menyebutkan bahwa dalam ceramahnya yang berjudul Structure of Islam, Iqbal
menunjukkan asas-asas suatu negara dengan ungkapannya: “Didalam agama Islam
spiritual dan temporal, baka dan fana, bukanlah dua daerah yang terpisah, dan
fitrah suatu perbuatan betapapun bersifat duniawi dalam kesannya ditentukan
oleh sikap jiwa dari pelakunya. Akhir-akhirnya latar belakang ruhani yang tak
kentara dari sesuatu perbuatan itulah yang menentukan watak dan sifat amal
perbuatan itu. Suatu amal perbuatan ialah temporal (fana), atau duniawi, jika
amal itu dilakukan dengan sikap yang terlepas dari kompleks kehidupan yang tak
terbatas. Dalam agama islam yang demikian itu adalah seperti yang disebut orang
"gereja" kalau dilihat dari satu sisi dan sebagai "negara"
kalau dilihat dari sisi yang lain. Itulah maka tidak benar kalau gereja dan
negara disebut sebagai dua faset atau dua belahan dari barang yang satu. Agama
Islam adalah suatu realitet yang tak dapat dipecah-pecahkan seperti itu”.
Demikian tegas Iqbal berpandangan bahwa negara dan agama adalah dua keseluruhan
yang tidak terpisah. Dengan gerakan membangkitkan Khudi (pribadi; kepercayaan
diri) inilah Iqbal dapat mendobrak semangat rakyatnya untuk bangkit dari keterpurukan
yang dialami dewasa ini. Ia kembalikan semangat sebagaimana yang dulu dapat
dirasakan kejayaannya oleh ummat Islam. Ujung dari konsep kedirian inilah yang
pada akhirnya membawa Pakistan merdeka dan ia disebut sebagai Bapak Pakistan.
b. Pemikirannya Tentang Landasan
Islam 1) Pemikiran Tentang Al-Qur’an Sebagai
seorang yang terdidik dalam keluarga yang kuat memegang prinsip Islam, Iqbal
meyakini bahwa Al-Qur’an adalah benar firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Al-Qur’an adalah sumber hukum
utama dengan pernyataannya “The Qur’an Is a book which emphazhise deed
rather than idea (Al-Qur’an adalah kitab yang lebih mengutamakan amal daripada
cita-cita). Namun dia berpendapat bahwa al-Qur’an bukanlah undang-undang. Dia
berpendapat bahwa penafsiran Al-Qur’an dapat berkembang sesuai dengan
perubahan zaman, pintu ijtihad tidak pernah tertutup. Tujuan utama al-Qur’an
adalah membangkitkan kesadaran manusia yang lebih tinggi dalam hubungannya dengan
Tuhan dan alam semesta, Al-Qur’an tidak memuatnya secara detail maka manusialah
yang ditutntut untuk mengembangkannya. Dalam istilah fiqih hal ini disebut
ijtihad. Ijtihad dalam pandangan Iqbal sebagai prinsif gerak dalam struktur
Islam. Disamping itu Al-Qur’an memandang bahwa kehidupan adalah satu proses
cipta yang kreatif dan progresif. Oleh karenanya, walaupun Al-Qur’an tidak
melarang untuk memperimbangkan karya besar ulama terdahulu, namun masyarakat
harus berani mencari rumusan baru secara kreatif dan inovatif untuk
menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Akibat pemahaman yang kaku terhadap
ulama terdahulu, maka ketika masyarakat bergerak maju, hukum tetap berjalan di
tempatnya. Satu segi mengenai al-Qur'an yang patut dicatat adalah bahwa ia sangat
menekankan pada aspek Hakikat yang bisa diamati. Tujuan al-Qur'an dalam
pengamatan reflektif atas alam ini adalah untuk membangkitkan kesadaran pada
manusia tentang alam yang dipandang sebagai sebuah symbol. Iqbal menyatakan hal
ini seraya menyitir beberapa ayat, diantaranya: “Dan di antara tanda-tanda
kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan
warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui.” (Qs. 30:22)
2) Perspektif Tentang Al-Hadits Sejak
dulu hadist memang selalu menjadi bahan yang menarik untuk dikaji. Baik umat
Islam maupun kalangan orientalis. Tentu saja maksud dan titik berangkat dari
kajian tersebut berbeda pula. Umat Islam didasarkan pada rasa tanggung jawab
yang begitu besar terhadap ajaran Islam. Sedangkan orientalis mengkajinya hanya
untuk kepentingan ilmiah. Bahkan terkadang hanya untuk mencari kelemahan ajaran
Islam itu lewat ajaran Islam itu sendiri. Iqbal memandang bahwa umat Islam
perlu melakukan studi mendalam terhadap literatur hadist dengan berpedoman
langsung kepada Nabi sendiri selaku orang yang mempunyai otoritas untuk
menafsirkan wahyunya. Hal ini sangat besar faedahnya dalam memahami nilai-nilai
hidup dari prinsip-prinsip hukum Islam sebagaimana yang dikemukakan al-Qur’an.
Iqbal sepakat dengan pendapat Syah Waliyullah tentang hadits, yaitu cara Nabi
dalam menyampaikan dakwah Islam dengan memperhatikan kebiasaan, cara-cara dan
keganjilan yang dihadapinya ketika itu. Selain itu juga Nabi sangat
memperhatikan sekali adat istiadat penduduk setempat. Dalam
penyampaiannya Nabi lebih menekankan pada prinsip-prinsip dasar kehidupan
social bagi seluruh umat manusia, tanpa terkait oleh ruang dan waktu. Jadi
peraturan-peraturan tersebut khusus untuk umat yang dihadapi Nabi. Untuk
generasi selanjutnya, pelaksanaannya mengacu pada prinsip kemaslahatan, dari
pandangan ini Iqbal menganggap wajar saja kalau Abu Hanifah lebih banyak
mempergunakan konsep istihsan dari pada hadits yang masih meragukan
kualitasnya. Ini bukan berarti hadits-hadits pada zamannya belum dikumpulkan,
karena Abu Malik dan Az-Zuhri telah membuat koleksi hadits tiga puluh tahun
sebelum Abu Hanifah wafat. Sikap ini diambil Abu Hanifah karena ia memandang
tujuan-tujuan universal hadits daripada koleksi belaka.
3) Perspektif Tentang Ijtihad Menurut
Iqbal ijtihad adalah “Exert with view to form an independent judgment on legal
question” (bersungguh-sungguh dalam membentuk suatu keputusan yang bebas untuk
menjawab permasalahan hukum). Kalau dipandang baik hadits maupun Al-Qur’an
memang ada rekomendasi tentang ijtihad tersebut. Disamping ijtihad pribadi
hukum Islam juga memberi rekomendasi keberlakuan ijtihad kolektif. Ijtihad
inilah yang selama berabad-abad dikembangkan dan dimodifikasi oleh ahli hukum
Islam dalam mengantisipasi setiap permasalahan masyarakat yang muncul. Sehingga
melahirkan aneka ragam pendapat (mazhab). Sebagaimana mayoritas ulama, Iqbal
membagi ijtihad kedalam tiga tingkatan yaitu: *
Otoritas penuh dalam menentukan perundang-undangan yang secara praktis hanya
terbatas pada pendiri mazhab-mazhab saja.
* Otoritas relative yang
hanya dilakukan dalam batas-batas tertentu dari satu madzhab
* Otoritas khusus yang
berhubungan dengan penetapan hukum dalam kasus-kasus tertentu, dengan tidak
terkait pada ketentuan-ketentuan pendiri madzhab. Iqbal menggaris bawahi pada
derajat yang pertama saja. Menurut Iqbal, kemungkinan derajat ijtihad ini
memang disepakati diterima oleh ulama ahl-al-sunnah tetapi dalam kenyataannya
dipungkiri sendiri sejak berdirinya mazhab-mazhab. Ide ijtihad ini dipagar
dengan persyaratan ketat yang hampir tidak mungkun dipenuhi. Sikap ini adalah
sangat ganjil dalam suatu system hukum Al-Qur’an yang sangat menghargai
pandangan dinamis. Akibatnya ketentuan ketatnya ijtihad ini, menjadikan hukum
Islam selama lima ratus tahun mengalami stagnasi dan tidak mampu berkembang.
Ijtihad yang menjadi konsep dinamis hukum Islam hanya tinggal sebuah
teori-teori mati yang tidak berfungsi dan menjadi kajian-kajian masa lalu saja.
Demikian juga ijma hanya menjadi mimpi untuk mengumpulkan ulama, apalagi dalam
konsepnya satu saja ulama yang tidak setuju maka batallah keberlakuan ijma
tersebut, hal ini dikarenakan kondisi semakin meluasnya daerah Islam. Akhirnya
kedua konsep ini hanya tinggal teori saja, konsekwensinya, hukum Islam pun
statis tidak berkembang selama beberapa abad.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Jika
mau menilai dengan jujur, maka usaha pendamaian agama dan filsafat yang
dilakukan Ibnu Rusyd melebihi upaya yang dilakukan para filosof Muslim seperti
al_kindi, al-Farabi dan lain-lain. Dalam rumusannya terlihat, perpaduan utuh
kebenaran agama dan filsafat dengan argumentasi yang kokoh dan sepenuhnya
berangkat dari ajaran agama Islam. Dengan keunggulan itu, Ibnu Rusyd mampu
mematahkan “serangan” Al-Ghazali dengan cara yang lebih tajam dan jelas.
Maka dari itu
terlihat sikap tegas, jujur, terbuka dan penguasaan serta kedalaman ilmu
pengetahuan pada diri Ibnu rusyd. Dari sikap dan pandangannya demikian pula
kemudian Ibnu Rusyd terlihat seorang filsuf Islam yang paling dekat pandangan
keagamaannya dengan golongan orthodoks. Dan dari riwayat hidupnya diketahui
bahwa diantara filsuf Islam, tidak ada yang menyamainya dalam keahliannya dalam
bidang figh Islam
DAFTAR PUSTAKA
Abbas Mahmud. 2003. Ibnu
Ruysd: Sang Filsuf, Mistikus, Fakih, dan Dokter. Yogyakarta:
Qirtas.
Nurcholish. 1994. Khazanah
Intelektual Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Zar, Sirajuddin. 1999. Filsafat
Islam I. Padang: IAIN Press
Makalah Keteladanan Sifat Ibnu Rusdy
4/
5
Oleh
Unknown
1 komentar:
Dunia Yang Akan Mewujudkan Impian Anda,Kami Akan Memberikan solusi mengatasi masalah ekonomi anda.
ReplyHanya Dengan Bermodalkan Kepercayaan Dan Keyakinan/TOGEL YANG TERBAIK. Kami Hadir Untuk Menjalin Tali Silatuh Rahmi,Guna Untuk Membantu Para Masyarakat Di Muka Bumi Ini ,Dengan Segala Permasalahan Yang Ada,Karena Di Dalam Masyarakat Yang Kita Tahu Saat Sekarang Ini,Masih Banyak Masyarakat Yang Hidup Dibawah Garis Kemiskinan,Untuk Itu,Izinkan Saya Mbah Karwo Untuk Memberikan Solusi Terbaik Untuk Anda Yang Sangat Membutuhkan.Ada Berbagai Cara Untuk Membantu Mengatasi Masalah Perekonomian,Dengan Jalan ; 1,Melalui Angka Togel Jitu ; Supranatural 2,Pesugihan Serba Bisa 3,Pesugihan Uang Balik/Bank ghaib 4,Ilmu Pengasihan 5,DLL HANYA DENGAN BERMODALKAN KEPERCAYAAN DAN KEYAKINAN,INSYA ALLAH ITU SEMUANYA AKAN BERHASIL SESUAI DENGAN KEINGINAN ANDA... Dunia yang akan mewujudkan impian anda dalam sekejab dan menuntaskan masalah keuangan anda dalam waktu yang singkat. Mungkin tidak pernah terpikir dalam hidup kita untuk menyentuh hal hal seperti ini. Ketika terpikirkan kekuasaan, uang dalam genggaman, semua bisa dikendalikan sesuai keinginan kita.Semua bisa diselesaikan secara logika.Tapi akankah logika selalu bisa menyelesaikan masalah kita. Pesugihan Mbah Karwo Mbah memiliki ilmu supranatural yang bisa menghasilkan angka angka putaran togel yang sangat mengagumkan, ini sudah di buktikan member bahkan yang sudah merasakan kemenangan(berhasil), baik di indonesia maupun di luar negeri.. ritual khusus di laksanakan di tempat tertentu, hasil ritual bisa menghasilkan angka 2D,3D,4D,5D.6D. sesuai permintaan pasien.Mbah bisa menembus semua jenis putaran togel. baik itu SGP/HK/Malaysia/Sydnei, maupun putaran lainnya. Mbah Akan Membantu Anda Dengan Angka Ghoib Yang Sangat Mengagumkan "Kunci keberhasilan anda adalah harus optimis karena dengan optimis.. angka hasil ritual pasti berhasil !! BERGABUNGLAH DAN RAIH KEMENANGAN ANDA..! Tapi Ingat Kami Hanya Memberikan Angka Ritual Kami Hanya Kepada Anda Yang Benar-benar dengan sangat Membutuhkan Angka Ritual Kami .. Kunci Kami Anda Harus OPTIMIS Angka Bakal Tembus…Hanya dengan Sebuah Optimis Anda bisa Menang…!!! Apakah anda Termasuk dalam Kategori Ini 1. Di Lilit Hutang 2. Selalu kalah Dalam Bermain Togel 3. Barang berharga Anda Sudah Habis Buat Judi Togel 4. Anda Sudah ke mana-mana tapi tidak menghasilkan Solusi yang tepat Jangan Anda Putus Asa…Selama Mentari Masih Bersinar Masih Ada Harapan Untuk Hari Esok.Kami akan membantu anda semua dengan Angka Ritual Kami..Anda Cukup Mengganti Biaya Ritual Angka Nya Saja… Apabila Anda Ingin Mendapatkan Nomor Jitu 2D 3D 4D 6D Dari Mbah Karwo Selama Lima Kali Putaran,Silahkan Bergabung dengan Uang Pendaftaran Paket 2D Sebesar Rp. 300.000 Paket 3D Sebesar Rp. 500.000 Paket 4D Sebesar Rp. 700.000 Paket 6D Sebesar Rp. 1.500.000 dikirim Ke Rekening BRI.Atas Nama:No Rekening PENDAFTARAN MEMBER FORMAT PENDAFTARAN KETIK: Nama Anda#Kota Anda#Kabupaten#Togel SGP/HKG#DLL LALU kirim ke no HP : ( 0852-3162-7267 ) SILAHKAN HUBUNGI EYANG GURU:0852-3162-7267